Monday, October 26

Kurasa 8 detik lagi jarum jam berpedoman pada angka 6 dan Aku masih mengenakan kemeja lusuh ini. Rok abu rokok ini seperti mengganggu tenggorokanku bernafas sama halnya dengan kakiku. Tapi tanganku langsung menangkap huruf-huruf tak bernyawa yang sedang ku 'injak' ini.

Semua akan pernah merasakan ketika titik kelemahannya ada pada dua titik: kebahagiaan dan kelemahan itu sendiri. Aku tidak berpedoman pada angka 6 dan sekarang ia berbalik mengangkat perut bundarnya menjadi 9. Hatiku keras, beku. Berapa detik ku lewatkan begitu saja, menulis di atas papan..
Aku melihatnya lagi. Ada dua bola mata indah yg tenang saat melihatnya..
Perempuan tegar, sesuai namanya.
Tidak rapuh, cerdas, penuh kasih sayang hatinya..
Tangan yg lembut dan kata yg tidak akan melukai..
Semoga diri ini dilindungi dan diampuninya..

No comments:

Post a Comment